Dimana masa rapuh, gagal, sedih, dan putus asa yang tiba-tiba hadir dalam hidup.
ketika
rasanya badan telah remuk dalam juang. Hati telah tersayat-sayat dalam
sabar. Kepala berdenyut dalam lelah. Seluruh daging terasa pegal dalam
keletihan. Keringat telah mengering sebelum sempat tangan menyapu.
Bahkan mungkin, air mata telah tersihir menjadi sungai.
Itulah cerita kita, yang kadang lelah berjuang dalam mempertahankan semangat dan keyakinan.
Kadang, kita merasa tiada teman untuk
berbagi. Tiada teman yang mengerti apa yang kita rasa. Tiada teman untuk
sekadar dipinjam pundaknya. Semua masalah dan pikiran seakan-akan berkumpul jadi satu di kerangka kepala dan
rongga dada kita. Sendirian
kita menanggungnya.
Lalu, bersedih adalah cara terwajar yang kita lakukan dalam menghadapi semua alasan untuk mengatakan, “Ah.. Aku lelah..”.
Mungkin, rasa lelah yang kerap datang
menghampiri sela perjuangan ini adalah bentuk kasih sayang Allah pada
kita. Mungkin, rasa rapuh menghadapi kegagalan adalah bentuk kasih
sayang Allah pada kita. Dan mungkin, rasa sedih karena merasa sendiri
juga bentuk kasih sayang Allah pada kita. Bentuk itu dirangkaikan dalam
lima huruf paling tulus yaitu Rindu.
Allah rindu kita menyebut nama-Nya ketika
lelah, rapuh dan sedih datang bertandang. Allah rindu wangi hamparan
sajadah malam kita ketika napas terasa berat dan sesak. Allah rindu,
pada kerinduan kita pada-Nya ketika cerita hidup macam tak berpihak pada
kita.
jika Allah mencintai, semuanya terasa indah, bersama-Nya..
